
SKH .( PORTALSOLORAYA.COM ) . Pembangunan sektor energi, termasuk energi baru terbarukan (EBT) memerlukan visi kenegarawanan. Pasalnya, pembangunan energi bersifat jangka panjang sehingga memerlukan visi dan kemampuan merencanakan jangka panjang.
Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
Sudirman Said mengemukakan hal itu saat menjadi pembicara dalam Seminar Energi
Baru Terbarukan yang diselenggarakan Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah
Surakarta (UMS), Senin (11/12) di Solo, Jawa Tengah.
"Pembangunan sektor energi hanya bisa dilaksanakan oleh
negarawan, tidak bisa diserahkan ke politisi. Negarawan berpikir jangka panjang
sampai generasi berikutnya, sementara politisi berpikir jangka pendek, berpikir
kalender Pemilu bagaimana caranya bisa terpilih kembali," papar dia.
Menurut Sudirman, jika sektor energi dijadikan instrumen
politik praktis, baik secara kebijakan maupun pada tataran praktis maka
keberlangsungannya (sustainability) akan dikorbankan. "Sikap seperti
ini pasti akan mengorbankan kebijakan pembangunan energi baru terbarukan,"
katanya.
Lebih lanjut Sudirman mengungkapkan, pembangunam EBT dalam
jangka pendek memang dirasa mahal. Tetapi dalam jangka panjang menjadi murah
dan berdampak positif pada ketahanan dan kedaulatan energi nasional.
"Membangun sektor energi, terutama energi baru
terbarukan adalah membangun untuk generasi berikutnya. Karena itu
diperlukan kenegarawanan. Hanya pemimpin negarawan yang akan berjuang keras
membangun energi baru terbarukan," tegasnya lagi.
Sudirman menyampaikan, energi merupakan sektor yang
dibutuhkan oleh semua orang, tetapi hanya dipahami oleh sedikit orang. Hal ini
membuat ruang moral hazard (pelangaran moral) menjadi terbuka lebar.
"Sedikit orang itu mencari keuntungan sebesar-besarnya
dari sektor ini, salah satunya dengan mempertahankan impor dibanding membangun
kemandirian energi nasional,"
tandasnya .dn






0 komentar:
Posting Komentar